Leave a comment

Membangun Citra Positif Solo

Jackson A Napitupulu
Peminat masalah sosial dan pendidikan, tinggal di Solo

http://desianasartika.files.wordpress.com/2012/06/24150928161af8f3ba042.jpg

Tulisan ini diawali pengalaman saat berada di sebuah kota yang sangat sering dikunjungi oleh banyak orang. Beberapa saat yang lalu kami berkunjung ke sebuah kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Saat itu, kami bermaksud mengabadikan suasana dan gedung-gedung kuno di sana.
Saat pendokumentasian berlangsung, ternyata kaset yang terdapat pada kamera sudah penuh sehingga kami harus mencari yang baru. Saat itu kami menanyakan kepada tukang parkir dan diarahkan ke arah utara kira-kira seratus meter, namun ternyata toko yang dimaksud tidak ada. Begitu pula, ketika kami tanyakan ke tukang becak, kami tidak mendapatkan informasi yang kami butuhkan.
Pengalaman ini sungguh menarik untuk dapat digunakan sebagai introspeksi, bahwa informasi merupakan hal penting dalam sebuah proses komunikasi, untuk menghasilkan sesuatu yang produktif bagi kedua belah pihak. Demikian pula, informasi menjadi salah satu hal terpenting untuk membangun citra sebuah kota, termasuk Kota Solo.

Sebagai sebuah kota yang tengah membangun citra positif di dalam dan luar negeri, informasi tentu menjadi kebutuhan yang wajib dipenuhi. Terlebih Pemkot Solo selama ini cukup sering menggelar event berskala nasional maupun internasional.  Event-event tersebut digelar sebagai bagian dari kerangka mempromosikan Solo ke masyarakat luas.

Beberapa event yang bisa disebut di antaranya, perhelatan Konferensi Menteri Perumahan dan Pembangunan Perkotaan se-Asia Pasifik (APMCHUD) III, Rapat Koordinasi Pengawasan Nasional (Rakorwanas), Solo Batik Fashion dan Solo Batik Carnival III. Event-event tersebut telah berlangsung hampir bersamaan, antara tanggal 24-26 Juni 2010.

Diakui atau tidak, event-event tersebut secara langsung atau tidak merupakan salah satu bentuk promosi Kota Solo ke masyarakat dunia. Melalui event-event tersebut, Kota Solo tengah mencoba menyematkan citra positif di kalangan masyarakat luas. Tentu saja, penyematan citra positif ini tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh semua elemen, institusi, termasuk masyarakat pada lapisan terkecil.

Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa sendiri sehari sebelum perhelatan APMCHUD mengatakan, penunjukan Kota Solo sebagai tuan rumah APMCHUD III bukan karena kebetulan. Penunjukan tersebut tidak dapat dipisahkan dari berbagai keberhasilan Pemkot Solo dalam pemberdayaan masyarakat perkotaan seperti pemindahan pedagang kaki lima (PKL) tanpa kekerasan dan peningkatan kualitas pemukiman kumuh.

Tentu saja sejumlah keberhasilan Kota Solo tersebut telah menjadi informasi positif sekaligus magnet bagi berbagai pihak untuk memberikan dukungan.   Salah satu yang dapat dilihat, bahwa kini banyak pihak yang menyelenggarakan kegiatan dari skala terkecil hingga event besar memilih Kota Solo sebagai tempat pelaksanaannya.

Kota Solo yang memiliki nilai tradisi budaya yang cukup kental telah memiliki nilai jual bagi para tamu, khususnya dalam perhelatan-perhelatan  besar. Dalam perhelatan APMCHUD III kemarin misalnya, para delegasi juga dengan suka cita ikut terlibat menjadi peserta kirab budaya yang berlangsung. Keterbukaan seperti ini semakin menambah kesan positif Kota Solo di hadapan publik, sehingga bisa menjadi magnet bagi mereka untuk kembali lagi ke Kota Bengawan.

Citra positif yang sudah terbangun tersebut minimal akan berdampak pada dua hal. Pertama, akan menarik lebih banyak pengunjung baik sebagai wisatawan, dan kedua, citra positif plus suasana yang nyaman, kondusif, aman ditambah dengan elemen pendukung  yang telah terkelola dengan baik, akan mendatangkan minat pihak-pihak lain untuk investasi di Kota Solo.

Kedua hal di atas  pada gilirannya sama-sama dapat mendongkrak ekonomi masyarakat, yang ujungnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Tingkat kunjungan yang tinggi misalnya, secara tak langsung  akan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dalam berbagai jenis usaha. Begitu pun, masuknya investor ke Kota Solo, diyakini akan mampu mendinamisasikan kehidupan ekonomi masyarakat Solo.
Akan tetapi, peningkatan kesejahteraan tidak hanya dimaknai semata sebagai peningkatan pendapatan saja, melainkan juga meningkatnya akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, informasi dan kebijakan. Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat Solo untuk mendukung program-program Pemkot guna membangun citra positif baik ke dalam maupun keluar Solo?
Peran Masyarakat

Berkaca dari pengalaman di awal tulisan ini, dapat ditarik sebuah asumsi awal bahwa untuk membangun citra positif  Kota Solo dibutuhkan peran serta dari seluruh stakeholder atau pengambil kebijakan, termasuk masyarakat luas.

Di luar sektor pengambil kebijakan, masyarakat Solo dalam konteks ini secara individual pun dapat memainkan peran penting sesuai dengan profesi dan latar belakangnya masing-masing. Artinya, bahwa kemampuan masyarakat memberikan informasi yang tepat dan lengkap kepada pengunjung, memiliki makna penting untuk membangun kenyamanan pengunjung dan citra positif Kota Solo. Dari hal terkecil ini diharapkan pengunjung makin betah tinggal di Solo. Di mana hal itu berarti keuntungan bagi masyarakat Solo pula.

Dari pemahaman seperti ini, sudah tentu seluruh elemen masyarakat bisa mengambil peran dalam akses komunikasi dalam kerangka membangun citra positif Kota Solo. Para pelaku, khususnya sektor informal menjadi ujung tombak dalam upaya memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya para pengunjung yang ingin menikmati suasana Kota Solo.

Tentu saja pembangunan citra positif Solo ini butuh regulasi dari pemerintah yang bersifat memberdayakan masyarakat dari semua kalangan. Sebagaimana contoh di awal tulisan ini, sebenarnya pelaku usaha dari sektor informal, seperti juru parkir maupun pengemudi becak memiliki peran penting dalam akses informasi.

Para pengunjung tentu sangat memerlukan informasi yang tepat mengenai segala potensi yang ada di Kota Solo. Karena itu sangat penting kiranya untuk meningkatkan kemampuan human relations masing-masing  pelaku usaha atau unsur-unsur yang bersentuhan langsung dengan para tamu. Program tersebut dapat dikemas misalnya dalam bentuk pelatihan bahasa, keterampilan berkomunikasi, pengembangan wawasan dan lain sebagainya.

Selaras dengan grand design pengembangan Kota Solo, kita percaya masih akan banyak lagi event-event baik yang berskala nasional maupun internasional bakal digelar. Dan tentu saja diharapkan seluruh elemen ikut berperan serta menjaga citra positif Kota Solo, dengan menjadi pelaku hubungan masyarakat (Humas) pada bidangnya masing-masing. Semuanya bermuara demi kesejahteraan masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: