Leave a comment

Membangun Citra Positif Solo

Jackson A Napitupulu
Peminat masalah sosial dan pendidikan, tinggal di Solo

http://desianasartika.files.wordpress.com/2012/06/24150928161af8f3ba042.jpg

Tulisan ini diawali pengalaman saat berada di sebuah kota yang sangat sering dikunjungi oleh banyak orang. Beberapa saat yang lalu kami berkunjung ke sebuah kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Saat itu, kami bermaksud mengabadikan suasana dan gedung-gedung kuno di sana.
Saat pendokumentasian berlangsung, ternyata kaset yang terdapat pada kamera sudah penuh sehingga kami harus mencari yang baru. Saat itu kami menanyakan kepada tukang parkir dan diarahkan ke arah utara kira-kira seratus meter, namun ternyata toko yang dimaksud tidak ada. Begitu pula, ketika kami tanyakan ke tukang becak, kami tidak mendapatkan informasi yang kami butuhkan.
Pengalaman ini sungguh menarik untuk dapat digunakan sebagai introspeksi, bahwa informasi merupakan hal penting dalam sebuah proses komunikasi, untuk menghasilkan sesuatu yang produktif bagi kedua belah pihak. Demikian pula, informasi menjadi salah satu hal terpenting untuk membangun citra sebuah kota, termasuk Kota Solo.

Sebagai sebuah kota yang tengah membangun citra positif di dalam dan luar negeri, informasi tentu menjadi kebutuhan yang wajib dipenuhi. Terlebih Pemkot Solo selama ini cukup sering menggelar event berskala nasional maupun internasional.  Event-event tersebut digelar sebagai bagian dari kerangka mempromosikan Solo ke masyarakat luas.

Beberapa event yang bisa disebut di antaranya, perhelatan Konferensi Menteri Perumahan dan Pembangunan Perkotaan se-Asia Pasifik (APMCHUD) III, Rapat Koordinasi Pengawasan Nasional (Rakorwanas), Solo Batik Fashion dan Solo Batik Carnival III. Event-event tersebut telah berlangsung hampir bersamaan, antara tanggal 24-26 Juni 2010.

Diakui atau tidak, event-event tersebut secara langsung atau tidak merupakan salah satu bentuk promosi Kota Solo ke masyarakat dunia. Melalui event-event tersebut, Kota Solo tengah mencoba menyematkan citra positif di kalangan masyarakat luas. Tentu saja, penyematan citra positif ini tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh semua elemen, institusi, termasuk masyarakat pada lapisan terkecil.

Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa sendiri sehari sebelum perhelatan APMCHUD mengatakan, penunjukan Kota Solo sebagai tuan rumah APMCHUD III bukan karena kebetulan. Penunjukan tersebut tidak dapat dipisahkan dari berbagai keberhasilan Pemkot Solo dalam pemberdayaan masyarakat perkotaan seperti pemindahan pedagang kaki lima (PKL) tanpa kekerasan dan peningkatan kualitas pemukiman kumuh.

Tentu saja sejumlah keberhasilan Kota Solo tersebut telah menjadi informasi positif sekaligus magnet bagi berbagai pihak untuk memberikan dukungan.   Salah satu yang dapat dilihat, bahwa kini banyak pihak yang menyelenggarakan kegiatan dari skala terkecil hingga event besar memilih Kota Solo sebagai tempat pelaksanaannya.

Kota Solo yang memiliki nilai tradisi budaya yang cukup kental telah memiliki nilai jual bagi para tamu, khususnya dalam perhelatan-perhelatan  besar. Dalam perhelatan APMCHUD III kemarin misalnya, para delegasi juga dengan suka cita ikut terlibat menjadi peserta kirab budaya yang berlangsung. Keterbukaan seperti ini semakin menambah kesan positif Kota Solo di hadapan publik, sehingga bisa menjadi magnet bagi mereka untuk kembali lagi ke Kota Bengawan.

Citra positif yang sudah terbangun tersebut minimal akan berdampak pada dua hal. Pertama, akan menarik lebih banyak pengunjung baik sebagai wisatawan, dan kedua, citra positif plus suasana yang nyaman, kondusif, aman ditambah dengan elemen pendukung  yang telah terkelola dengan baik, akan mendatangkan minat pihak-pihak lain untuk investasi di Kota Solo.

Kedua hal di atas  pada gilirannya sama-sama dapat mendongkrak ekonomi masyarakat, yang ujungnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Tingkat kunjungan yang tinggi misalnya, secara tak langsung  akan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dalam berbagai jenis usaha. Begitu pun, masuknya investor ke Kota Solo, diyakini akan mampu mendinamisasikan kehidupan ekonomi masyarakat Solo.
Akan tetapi, peningkatan kesejahteraan tidak hanya dimaknai semata sebagai peningkatan pendapatan saja, melainkan juga meningkatnya akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, informasi dan kebijakan. Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat Solo untuk mendukung program-program Pemkot guna membangun citra positif baik ke dalam maupun keluar Solo?
Peran Masyarakat

Berkaca dari pengalaman di awal tulisan ini, dapat ditarik sebuah asumsi awal bahwa untuk membangun citra positif  Kota Solo dibutuhkan peran serta dari seluruh stakeholder atau pengambil kebijakan, termasuk masyarakat luas.

Di luar sektor pengambil kebijakan, masyarakat Solo dalam konteks ini secara individual pun dapat memainkan peran penting sesuai dengan profesi dan latar belakangnya masing-masing. Artinya, bahwa kemampuan masyarakat memberikan informasi yang tepat dan lengkap kepada pengunjung, memiliki makna penting untuk membangun kenyamanan pengunjung dan citra positif Kota Solo. Dari hal terkecil ini diharapkan pengunjung makin betah tinggal di Solo. Di mana hal itu berarti keuntungan bagi masyarakat Solo pula.

Dari pemahaman seperti ini, sudah tentu seluruh elemen masyarakat bisa mengambil peran dalam akses komunikasi dalam kerangka membangun citra positif Kota Solo. Para pelaku, khususnya sektor informal menjadi ujung tombak dalam upaya memberikan pelayanan kepada masyarakat khususnya para pengunjung yang ingin menikmati suasana Kota Solo.

Tentu saja pembangunan citra positif Solo ini butuh regulasi dari pemerintah yang bersifat memberdayakan masyarakat dari semua kalangan. Sebagaimana contoh di awal tulisan ini, sebenarnya pelaku usaha dari sektor informal, seperti juru parkir maupun pengemudi becak memiliki peran penting dalam akses informasi.

Para pengunjung tentu sangat memerlukan informasi yang tepat mengenai segala potensi yang ada di Kota Solo. Karena itu sangat penting kiranya untuk meningkatkan kemampuan human relations masing-masing  pelaku usaha atau unsur-unsur yang bersentuhan langsung dengan para tamu. Program tersebut dapat dikemas misalnya dalam bentuk pelatihan bahasa, keterampilan berkomunikasi, pengembangan wawasan dan lain sebagainya.

Selaras dengan grand design pengembangan Kota Solo, kita percaya masih akan banyak lagi event-event baik yang berskala nasional maupun internasional bakal digelar. Dan tentu saja diharapkan seluruh elemen ikut berperan serta menjaga citra positif Kota Solo, dengan menjadi pelaku hubungan masyarakat (Humas) pada bidangnya masing-masing. Semuanya bermuara demi kesejahteraan masyarakat.

Leave a comment

Menganalisa Kesuksesan CSR AQUA Danone

Menganalisa Kesuksesan CSR AQUA Danone

 

Kesuksesan CSR AQUA Danone

 “Sekarang sumber air sudekat Beta sonde terlambat lagi” Begitulah sepenggal kalimat yang meluncur dari mulut seorang anak laki laki berkulit hitam manis di Papua. Iklan milik Danone Aqua ini kita jumpai pada tahun 2009, sebagai bukti pelaporan kepada masyarakat bahwa Aqua telah melakukan suatu bentuk program kepeduliannya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar (NTT).

Program Coorporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu bentuk wajib yang telah ditetapkan oleh pemerintah sejak tahun 2007, pasal 74 ayat 1 disebutkan bahwa “Perseroan Terbatas yang menjalankan  usaha dibidang bersangkutan dengan sumber daya alam wajib menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan”. Peraturan tentang CSR yang lebih terperinci tertuang dalam UU yang dijabarkan lebih jauh oleh Peraturan Menteri Negara BUMN No:Per-07/MBU/2007.

CSR AQUA

Mengingat Aqua adalah perusahaan yang telah melayani masyarakat hampir 40 tahun, Aqua juga menggunakan sumber daya alam yakni sumber air bersih, oleh karena itu untuk menjaga kesinambungan serta keseimbangan penggunaan sumber daya agar tetap terjaga dan manfaatnya bagi masyarakat luas dan menciptakan pertumuhan sumber daya yang berkelanjutan. Oleh karena itu dirasa penting Aqua melakukan kegiatan CSR, dalam rangka sebagai wujud komitmen dan tanggung jawab sosial perusahaan dengan menerapkan kegiatan berbasis masyarakat dalam menjalankan programnya. Kampanye yang telah dimulai sejak tahun 2007 ini juga adalah sebuah kampanye berkelanjutan mengenai kebaikan alam (Goodness of nature).

Salah satu program Aqua adalah WASH (Water Access, Sanitation, Hygiene Program) tujuanya untuk memberikan solusi dalam penyediaan air bersih di Indonesia. Didalam program WASH ini adalah program ‘Satu Untuk Sepuluh’, program ini juga mendukung program Millenium Development yang dicanangkan oleh PBB tujuannya untuk memerangi kemiskinan dan kelaparan diberbagai belahan dunia yang ditarget pada tahun 2015.

Program yang akan dibahas kali ini khusus pada CSR Aqua yang telah terlaksana yaitu program “1L Aqua untuk 10L Air Bersih”, menurut Binahidra Logiardi, manajer PT Tirta Investama yang membawahi perusahaan Aqua, slogan ini adalah ungkapan simbiolis untuk memudahkan pemirsa mencerna pesan yang ingin Aqua sampaikan,  dimana  setiap 1 liter yang terjual telah membantu 10 liter air bersih untuk 4 kecamatan.

Program ini didasarkan pada fakta yang menjelaskan bahwa air adalah kebutuhan mendasar bagi manusia, namun permasalahanya tidak semua orang dapat mengakses air bersih, karena faktor demografis yang membutuhkan infrastruktur memadai untuk itu. padahal kesehatan lingkungan dan diri adalah sesuatu yang mahal dan harus dijaga oleh pribadi individu.

Program ini dilaksanakan di Timor Tengah Selatan karena berdasarkan survey terbaru yang dilakukan ACF (Action Contre la Faim). NTT dianggap sebagai wilayah yang tepat, karena sedang mengalami program kelangkaan air bersih dibagian belahan timur Indonesia (program satu untuk sepuluh, 2007). Masyarakat NTT juga masih kesulitan dalam mengakses air bersih, mereka harus berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh, medanya pun terjal, berbatu bahkan harus melewati sungai. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk membawa pulang dan pergi air dalam jerigen tiap harinya.

Kelangkaan air ini sangat berpengaruh pada banyak aspek, mulai dari anak anak yang mau tida mau harus membantu orang tua mereka untuk mendapatkan air, sehingga waktu bermain dan belajar merekapun sering terabaikan oleh hal ini, ancaman ragam penyakit juga menghantui mereka mulai dari demam berdarah, diare hingga malaria adalah penyakit yang sudah biasa mereka derita.

Berangkat dari permasalahan diatas, Aqua berkomitmen untuk memperbaiki kesejahteraan anak Indonesia. Untuk setiap liter produk Aqua berlabel khusus yakni Aqua 600 mm dan 1.500 mm dijual maka konsumen telah membantu program Aqua denga menyumbangkan 10 liter air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan. Selain itu Aqua akan memperpendek jarak sumber air ke pemukiman penduduk dengan cara menempatkan pipa pipa ke tempat yang lebih mudah dijangkau. Sehingga jarak tempuh satu jam kini bisa diubah dengan jarak 200 meter saja, karena air bersih akan disalurkan melalui pipa pipa tersebut.

Aqua telah memberikan akses tersebut kepada 12.000 penerima bantuan dibeberapa desa kecamatan Boking dan Amanatun Utara NTT. Dalam program ini sumber mata air pegunungan yang terdapat didesa ditutp dengan menggunakan bangunan dari semen kemudian air tersebut dialirkan ke dusun melalui 11 titik keran air, penyaluran tersebut menggunakan dua prinsip teknologi yakni berdasarkan gravitasi dan pompa hidran. Panjang total pipa yang dibangun adalah 6 km.

Tujuan program ini dikatakn berhasil karena targetnya telah terpenuhi :

  1. Perbaikan infrastruktur air bersihdan jumlah ketersediaan air bersih, telah dipangkasnya jarak tempuh yang jauh menjadi lebih dekat sehingga mempermudah kebutuhan hidup mereka.
  2. Terciptanya kesadaran hidup sehat malalui penyuluhan kesehatan.
  3. Kerjasama dengan stakeholder lokal untuk mendukung keberlanjutan program.

Sebuah kegiatan dikatakan termasuk CSR jika memiliki ciri :

a.         Identifikasi yakni Aqua harus bisa memprioritaskan  kegiatan tersebut untuk orang orang yang benar benar membutuhkan (needs) dibanding mementingkan keinginan (wants), disini Aqua berprioritas untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat NTT, hal ini menunjukan bahwa disamping Aqua adalah sebuah perusahaan besar yang juga memiliki komitmen terhadap masyarakat dengan memberikan kontribusi yakni melakukan kegiatan untuk mengatasi kelangkaan air bersih salah satunya di NTT.

b.         Continuity yakni kegiatan yang bersifat terus menerus atau berkesinambungan. Hal ini dikarenakan untuk dapat mengubah perilaku dan mindset masyarakan tentang pentingnya air bersih sehingga untuk merubah kedua hal tersebut dibutuhkan jangka waktu yang panjang, Kegiatan Aqua ini bertajuk WASH (Water Access, Sanitation, Hygiene Program) didalamnya terdapat program ‘1 liter untuk 10 liter’ dan dilanjutkan dengan program ‘satu untuk sepuluh’ dengan jangka waktu hingga 2020 untuk membantu daerah daerah yang sedang mengalami krisis air bersih.

c.      Empowering yakni kegiatan yang dilakukan menekankan pada aktivitas tersebut dilakukan oleh masyarakat yang bersangkutan. Yakni Aqua memberikan penyuluhan penyuluhan kesehatan untuk membekali masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan air bersih yang benar. Dalam pengerjaan fisik Aqua juga melibatkan masyarakat karena tiap dusun memiliki komite air yang bertugas merawat instalasi. Sebanyak 127 komite air telah dibekali dengan berbagai keterampilan agar masyarakat dapat mengelola sarana air bersih, memberikan edukasi melalui kegiatan seperti pemutaran film, pertunjukan  drama.

ANALISIS

Setiap perusahaan memiliki bentuk CSR yang berbeda-beda dan tergantung dari kompentensi perusahaan serta kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Sebaiknya sebelum melaksanakan kegiatan CSR, perusahaan melalukan survei terlebih dahulu untuk menampung aspirasi masyarakat sehingga CSR yang dilakukan oleh perusahaan tepat sasaran.

Ada 3 elemen kunci dalam CSR (Aswak dkk, 2011:85) :

  1. CSR adalah komitmen, kontribusi, cara pengolahan bisnis dan pengambilan keputusan pada perusahaan.
  2. Komitmen, kontribusi, pengelolaan bisnis dan pengambilan keputusan perusahaan didasarkan pada akuntabilitas, mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan, memenuhi tuntutan etis, legal dan profesional.
  3. Perusahaan memberikan dampak nyata pada pemangku kepentingan dan secara khusus pada masyarakat sekitar.
Leave a comment

Peran PR dalam Implementasi CSR

Peran PR dalam Implementasi CSR

Ketika kita membicarakan CSR berarti kita juga membicarakan PR sebuah organisasi, di mana CSR merupakan bagian dari community relations. Karena CSR pada dasarnya adalah kegiatan PR, maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah CSR. Dengan menggunakan tahapan-tahapan dalam proses PR yang bersifat siklis, maka program dan kegiatan CSR juga dilakukan melalui pengumpulan fakta, perumusan masalah, perencanaan dan pemrograman, aksi dan komunikasi, serta evaluasi untuk mengetahui sikap publik terhadap organisasi.

Menghadapi tren global dan resistensi masyarakat sekitar perusahaan, maka sudah saatnya setiap perusahaan memandang serius pengaruh dimensi sosial, ekonomi dan lingkungan dari setiap aktivitas bisnisnya, serta berusaha membuat laporan setiap tahunnya kepada stakeholders-nya. Laporan bersifat non financial yang dapat digunakan sebagai acuan oleh perusahaan dalam melihat dimensi sosial, ekonomi dan lingkungannya.

Dalam implementasi CSR ini public relations (PR) mempunyai peran penting, baik secara internal maupun eksternal. Dalam konteks pembentukan citra perusahaan, di semua bidang pembahasan di atas boleh dikatakan PR terlibat di dalamnya, sejak fact finding, planning, communicating, hingga evaluation. Jadi ketika kita membicarakan CSR berarti kita juga membicarakan PR sebuah perusahaan, di mana CSR merupakan bagian dari community relations. Karena CSR pada dasarnya adalah kegiatan PR, maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah CSR.

Dengan menggunakan tahapan-tahapan dalam proses PR yang bersifat siklis, maka program dan kegiatan CSR dilakukan melalui tahapan-tahapan berikut:

1. Pengumpulan Fakta

Banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat sekitar daerah operasional perusahaan. Mulai dari permasalahan lingkungan seperti polusi, sanitasi lingkungan, pencemaran sumber daya air, penggundulan hutan sampai dengan permasalahan ekonomi seperti tingkat pengangguran yang tinggi, sumber daya manusia yang tidak berketerampilan, rendahnya kemauan berwirausaha dan tingkat produktivitas individu yang rendah.

PR bisa mengumpulkan data tentang permasalahan tersebut dari berbagai sumber, misalnya dari berita media massa, data statistik, obrolan warga, atau keluhan langsung dari masyarakat. Selain itu masih banyak sumber yang bisa digunakan untuk mengumpulkan fakta mengenai persoalan sosial yang dihadapi komunitas. PR juga bisa menelusuri laporan-laporan hasil penelitian yang dilakukan perguruan tinggi atau LSM mengenai kondisi sosial ekonomi masyarakat.

2. Perumusan Masalah

Masalah secara sederhana bisa dirumuskan sebagai kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang dialami, yang untuk menyelesaikannya diperlukan kemampuan menggunakan pikiran dan keterampilan secara tepat. Misalnya, dari pengumpulan fakta diketahui salah satu masalah yang mendesak dan bisa diselesaikan dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki organisasi adalah rendahnya keterampilan para pemuda sehingga tak bisa bersaing di pasar kerja atau tak bisa diandalkan untuk membuka lapangan kerja bagi dirinya. Berdasarkan hal tersebut, maka dirumuskan permasalahan: Rendahnya keterampilan kerja pemuda lulusan sekolah menengah.

Namun tidak semua pemuda tamatan sekolah menengah yang rendah tingkat keterampilan kerjanya yang diidentifikasi sebagai masalah. Namun terbatas pada komunitas sekitar lokasi perusahaan atau di beberapa kota. Jadi, dalam merumuskan masalah tersebut PR mulai memfokuskan pada komunitas organisasi. Bila komunitasnya dirumuskan secara sederhana, berarti komunitas berdasarkan lokasi yakni komunitas sekitar wilayah operasi korporat. Namun bila komunitasnya dipandang sebagai struktur interaksi maka komunitas tersebut lepas dari pertimbangan kewilayahan, tetapi lebih pada pertimbangan kesamaan kepentingan.

3. Perencanaan dan Pemrograman

Perencanaan merupakan sebuah prakiraan yang didasarkan pada fakta dan informasi tentang sesuatu yang akan terwujud atau terjadi nanti. Untuk mewujudkan apa yang diperkirakan itu dibuatlah suatu program. Setiap program biasanya diisi dengan berbagai kegiatan. Kegiatan sebagai bagian dari program merupakan langkah-langkah yang ditempuh untuk mewujudkan program guna mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

Kembali kepada perumusan masalah tentang rendahnya keterampilan kerja pemuda lulusan sekolah menengah, maka PR menyusun rencana untuk mencapai tujuan agar para pemuda lulusan sekolah menengah itu memiliki keterampilan kerja yang bisa digunakan untuk mencari kerja atau membuka lapangan kerja bagi dirinya sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut, program yang disusun misalnya menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan bagi mereka.

4. Aksi dan Komunikasi

Aspek dari aksi dan komunikasi inilah yang membedakan kegiatan community relations dalam konteks PR dan bukan PR. Di mana watak PR ditampilkan lewat kegiatan komunikasi. PR pada dasarnya merupakan proses komunikasi dua arah yang bertujuan untuk membangun dan menjaga reputasi dan citra organisasi di mata publiknya. Karena itu, dalam program CSR selalu ada aspek bagaimana menyusun pesan yang ingin disampaikan kepada komunitas, serta melalui media apa dan cara bagaimana.

Sedangkan aksi dalam implementasi program yang sudah direncanakan, pada dasarnya sama saja dengan implementasi program apa pun. Kembali pada contoh kasus awal, ketika program pendidikan dan pelatihan keterampilan itu dijalankan, harus ada ruangan, baik untuk penyampaian teori maupun bengkel kerja sebagai tempat praktik. Di situlah aksi pendidikan dan pelatihan dijalankan. Di dalamnya tentu saja ada komunikasi yang menjelaskan kenapa program itu dijalankan, juga masalah tanggungjawab sosial organisasi pada komunitasnya sehingga memilih untuk menjalankan program kegiatan tersebut. Dengan begitu diharapkan akan berkembang pandangan yang positif dari komunitas terhadap organisasi sehingga reputasi dan citra organisasi menjadi baik.

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan keharusan pada setiap akhir program atau kegiatan untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi program. Berdasarkan hasil evaluasi ini bisa diketahui apakah program bisa dilanjutkan, dihentikan atau dilanjutkan dengan melakukan beberapa perbaikan dan penyempurnaan. Namun dalam konteks community relations perlu diingat bahwa evaluasi bukan hanya dilakukan terhadap penyelenggaraan program atau kegiatan belaka. Melainkan juga dievaluasi bagaimana sikap komunitas terhadap organisasi. Evaluasi atas sikap publik ini diperlukan karena, pada dasarnya community relations ini meski merupakan wujud tanggungjawab sosial organisasi, tetap merupakan kegiatan PR.

Leave a comment

Mengenal Profesi Humas (Public Relation)

Apa itu PR?

Disini kita akan sama-sama belajar untuk mengenal lebih dekat apa itu humas dan bagaimanakah seorang humas bekerja.

 

 

PR merupakan kepanjangan dari Public Relations. Konsep PR  pertama kali diperkenalkan oleh Ivy Ledbetter (Ivy Lee) yang saat ini dikenal sebagai The Father of PR. Ivy Lee dianggap sebagai bapak humas karena dengan konsepsinya berhasil mengembangkan humas yang oleh para cendekiawan dijadikan landasan untuk objek studi.

 

Kemudian banyak definisi tentang PR yang bermunculan oleh berbagai ahli, salah satunya adalah deskripsi Frank Jefkins yang mengatakan bahwa “ PR merupakan sesuatu yang merangkum keseluruhan komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian.” (Jefkins, 1992:9)

 

Selain itu, ada pula deskripsi PR oleh Prof. Marston :

PR adalah fungsi manajemen berupa penilaian sikap publik, mengidentifikasi kebijaksanaan dan tata cara organisasi demi kepentingan publik, melaksanakan program kegiatan dan komuniksi untuk meraih pengertian umum dan publik.

 

Pentingnya Membangun Citra Perusahaan

Perusahaan yang mempunyai citra baik dimata konsumen , produk dan jasanya relatif lebih bisa diterima konsumen dari pada perusahaan yang tidak mempunyai citra.
Perusahaan yang memiliki citra positif dimata konsumen cenderung survive pada masa krisis. Kalaupun menderita kerugian jumlah nominalnya jauh lebih kecil dibanding perusahaan yang citranya kurang baik. Penyebabnya karena dimasa krisis masyarakat melakukan pengetatan keuangan, mereka akan lebih selektif dalam mengkonsumsi dan memilih yang secara resiko memang aman. Karena itu mereka umumnya memilih berhubungan dengan perusahaan atau membeli produk-produk yang dipercaya memiliki pelayanan dan kualitas yang baik.
Dampak positif lainnya terhadap karyawannya sendiri. Karyawan yang bekerja pada perusahaan dengan citra positif memiliki rasa bangga sehingga dapat memicu motivasi mereka untuk bekerja lebih produktif. Dengan demikian pertumbuhan dan profitabilitas perusahaan meningkat.
Selain itu citra perusahaan yang baik juga menjadi incaran para investor yang otomatis akan semakin yakin terhadap daya saing dan kinerja perusahaan ini. Bagi perusahaan yang telah go publik kondisi ini berpengaruh pada pergerakan harga saham di lantai bursa. Dengan demikian perusahaan yang memiliki citra positif akan lebih mudah dalam melakukan segala hal untuk berkembang.

 

A.      PERAN PR DALAM SUATU ORGANISASI dan PERUSAHAAN

1. Communication Tehnician

Beberapa praktisi memasuki dunia PR ini sebagai teknis. Pada tahap ini kemampuan jurnalistik dan komunikasi sangat diperlukan. PR diarahkan untuk berperan menulis, menulis news letter, menulis in house journal, menulis news release, menulis feature, dll. Biasanya praktisi dalam peran ini tidak hadir pada saat manajemen menemui kesulitan. Mereka tidak dilibatkan dalam manajemen sebagai pengambil keputusan. Peran mereka lebih ke arah penulisan tools dan mengimplementasikan program. Mereka sebagai “the last to know”
2. Expert Prescriber

Praktisi PR sebagai pendefinisi problem, pengembang program dan memeiliki tanggungjawab penuh untuk mengimplementasikannya. Mereka sebagai pihak yang pasif. Manajer yang lainnya menyerahkan tugas komunikasi sepenuhnya ke tangan si “komunikasi” ini sehingga mereka dapat mengerjakan pekerjaan mereka yang lainnya.Tampaknya bangga karena PR semacam ini dianugerahi kepercayaan tinggi tetapi karena tidak adanya keterlibatan top manajemen dalam peran PR maka PR seolah terisolir dari perusahaan. Ia sibuk sendiri dengan pekerjaannya. Di pihak manajemen mereka juga menjadi sangat tergantung kepada PR nya. Mereka menjadi minim komitmen kepada tugas – tugas PR, padahal seperti diketahui seharusnya tugas PR harusnya dilakukan oleh semua orang yang ada dalam sebuah perusahaan.
3. Communication Facilitator

PR sebagai pendengar setia dan broker informasi. Mereka sebagai penghubung, interpreter dan mediator antara organisasi dan publiknya. Mereka mengelola two way communicationnya. Tujuannya dalam hal ini adalah untuk menyediakan kebutuhan dua belah pihak akan informasi, membuat kesepakatan yang melibatkan minat keduabelah pihak.
4. Problem Solving Facilitator

Mereka berkolaborasi dengan manajer lain untuk mendefinisikan dan memecahkan masalah. Mereka menjadi bagian dalam manajemen stratejik perusahaan. Bergabung dengan konsultan mulai dari awal direncanakan program hingga evaluasinya. Membantu manajemen menerapkan PR sebagai tahapan fungsi manajemen yang sama dengan kegiatan manajemen yang lain.
PR berfungsi sebagai bagian penting penganalisis situasi, memiliki peran yang intens dalam pengembangan prosedur, kebijakan, produk dan aksi perusahaan. Mereka juga memiliki power mengubah sesuatu yang seharusnya diubah. Mereka harus terlibat dalam segala bentuk perubahan organisasi.

 

 

B. SASARAN PUBLIC RELATION

Sasaran PR adalah publik, publik merupakan sauatu kelompok dalam masyarakat yang memiliki karakteristik kepentingan yang sama, intinya sasaran PR bukanlah perorangan melainkan orang ramai. Dalam praktik publik dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni internal dan eksternal, yang dikatakan publik internal adalah mereka yang bekerja di dalam lembaga, meliputi karyawan hingga pemegang saham sedangkan pubnlik eksternal adalah mereka yang beradsa diluar lembaga, seperti komunitas local disekitar peruasahaan, publik pers pencari sumber berita dan pemerintah.

 
C. KODE ETIK PR

Etika adalah standar-standar moral perilaku, atau bagaimana Anda bertindak dan mengharapkan orang lain bertindak. Etika merupakan sebuah bentuk kompromi antara hak dan tanggung jawab individu. Ia merupakan suatu hasil bentukan manusia. Etika diciptakan untuk mengatur kehidupan manusia agar terjadi interaksi yang harmonis. Sehingga dalam prakteknya tak ada etika yang mutlak. standar/dasar etikanya mencakup:

 

1. Sikap profesional

Sikap profesional memiliki prinsip bahwa seorang PR harus bertindak atas dasar keinginan untuk menciptakan kebaikan diantara kedua belah pihak, baik klien maupun komunitas. Bukan semata – mata untuk mengejar posisi dan kekuasaan.
2. Kepercayaan mutlak, dan tanggung jawab social

Untuk menjadi seorang profesional, seorang PR diharapkan mampu memegang kepercayaan.

Kesejahteraan publik atau pimpinan tergantung pada kecakapan dan tindakan orang yang bersangkutan. Pimpinan harus mempercayai informasi yang diberikan oleh PR lebih dari siapapun. Sedangkan kehormatan seorang profesional PR mengacu pada keyakinan dan kepercayaan yang diberikan publik, karena perilaku yang benar dan keahlian yang dimiliki.